Syekh Ali- Gom'ah

Habib Mundzir Al-Musawa

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Syekh Abdul Halim Mahmud

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Resonansi. Show all posts
Showing posts with label Resonansi. Show all posts

Thursday, January 24, 2013

Inspirasi Muhammad al-Fatih + Link Download

Muhammad Al Fatih merupakan pemuda yang mampu mewujudkan salah satu bisyaroh nubuwah. Kisah perjuangannya mampu menjadi inspirasi bagi para pejuang tegaknya syariat Islam dan khilafah dalam mewujudkan janji Allah dan bisyaroh nubuwah. Ada beberapa ibroh yang bisa kita ambil dari kisah selama hidupnya.

Mental al Fatih sejak kecil
Sejak kecil pada diri al Fatih sudah ditanamkan jiwa pemimpin terbaik, penakluk Konstantinopel, anak yang kelak akan mewujudkan sebuah bisayroh nubuwah. Syaikh Aaq Syamsudin, secara istiqomah mengajarkan dan mengulang-ulang bisyaroh nubuwah, kisah jihad dan futuhat para shahabat dan pendahulu al Fatih yang ingin menaklukkan Konstantinopel, serta yang terpenting adalah ketaatan totalitas pada Sang Kholiq. Sejarah telah mencatat, bahwa semenjak baligh hingga akhir hidupnya al Fatih tidak pernah meninggalkan shalat rowatib dan sholat tahajud, selama hidupnya ia menjadikan syariat selalu didepan matanya dan berusaha jangan sampai melanggar syariat yang Islam mulia ini.

Friday, February 3, 2012

TEORI MA’RIFAT DZUNNUN AL-MISRI

Maqam Dzun Nun Al-Mishri
 Al-Misri adalah pelopor paharn ma ‘rifat, Penilaian ini sangatlah tepat karena berdasarkan riwayat Al-Qathfi dan Al-Mas’udi—yang kemudian dianalisis Nicholson—dan Abd Al-Qadir dalam falsafah Al-sufiah fi Al-Islam; Al-Misri berhasil mernperkenaikan corak baru tentang ma’rifat dalam bidang sufisme Islam. Pertama, ía membedakan antara ma‘rifat sufiah dengan ma‘rifat aqliyah. Ma’rifat yang pertama menggunakan pendekatan qalb yang biasa digunakan para sufi, sedangkan ma’rifat yang kedua menggunakan pendekatan akal yang biasa digunakan para teolog.

Tuesday, January 10, 2012

6 Kekuatan Manusia

1 Kekuatan Impian (The Power of Dreams)

Untuk memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupan ini, setiap kita harus memiliki impian dan tujuan hidup yang jelas. Setiap kita harus berani memimpikan hal-hal terindah dan terbaik yang kita inginkan bagi kehidupan kita dan kehidupan orang-orang yang kita cintai. Tanpa impian, kehidupan kita akan berjalan tanpa arah dan akhirnya kita tidak menyadari dan tidak mampu mengendalikan ke mana sesungguhnya kehidupan kita akan menuju.

Tuesday, October 18, 2011

Cara Menghilangkan Negatif Thinking

Apa itu negative thinking?

Negative thinking, secara sederhana, dapat didefinisikan sebagai pikiran-pikiran yang muncul, dan diyakini benar adanya tentang sesuatu hal yang belum tentu benar mengenai suatu kejadian atau peristiwa secara negatif dan irasional.Jenis-jenis dan contoh-contoh negative thinking (keyakinan dan pemikiran yang irasional).
1. All or nothing.
Berpikir pada ekstrim kiri dan kanan. Berhasil berarti sukses, gagal berarti pecundang. Contoh: Kamu tidak naik kelas, artinya kamu memercayai bahwa kamu bodoh, tidak berguna, tidak punya masa depan.
2. Overgeneralization
Hal buruk yang terulang, akan terus berulang. Misalnya: kamu pernah dikhianati pacar kamu. Akibatnya kamu berpikir bahwa kamu akan terus dikhianati oleh pacar kamu selanjutnya, sehingga kamu memilih untuk tidak pacaran.
3. Jumping to conclusion
Kamu mengambil kesimpulan seperti kamu seorang peramal. Misalnya: Kamu menelepon pacar kamu dan tidak diangkat, kamu berpikir pacar kamu sedang selingkuh.
4. The binocular trick

Tuesday, May 10, 2011

Imajinasi Tentang NII dan N11

Oleh
Indra J Piliang
Lulusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia

Anggap saja saya sedang keranjingan menulis lagi. Tak apa toh? Kali ini kembali soal NII (Negara Islam Indonesia). Entah mengapa, berita tentang NII ini lebih banyak daripada masalah-masalah mendasar bangsa ini. Sebut saja yang menyangkut beragam kegagalan dalam Ujian Nasional yang beranggaran besar itu. Atau nasib dunia pendidikan yang tak juga membaik, setelah diguyur APBN sebesar 20%.

Saturday, April 23, 2011

Suluk Wujil .. Sunan Bonang

1.Inilah ceritera si Wujil Berkata pada guru yang diabdinya Ratu Wahdat Ratu Wahdat nama gurunya Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung Yang tinggal di desa Bonang Ia minta maaf Ingin tahu hakikat Dan seluk beluk ajaran agama Sampai rahsia terdalam

2 Sepuluh tahun lamanya Sudah Wujil Berguru kepada Sang Wali Namun belum mendapat ajaran utama Ia berasal dari Majapahit Bekerja sebagai abdi raja Sastra Arab telah ia pelajari Ia menyembah di depan gurunya Kemudian berkata Seraya menghormat Minta maaf

Sunday, April 17, 2011

Break Bad Habits Now With Affirmations

Affirmations can be really helpful to break bad habits if you are persistent about it.

In order for you to really break bad habits you must: a) be aware that the unconscious mind exists and b) learn how to manipulate its existence.

And affirmations are great and powerful techniques in which, if used effectively, could bring out and address directly to your unconscious being.

By uttering simple positive statements of the way you wish to live your life, then reiterating them out loud daily, you teach your unconscious thoughts in order to guide you to a better path to be reflected by your whole senses.

Sunday, October 25, 2009

Neo-Salafisme Wahabi: Ironi Teologi dan Pendangkalan Islam

Oleh : Mukti Ali
(Penulis masih tingkat akhir Akidah-Filsafat, Ushuluddin, Univ. Al-Azhar Kairo)

Awalnya Wahabi adalah sebuah gerakan dakwah, yang diusung oleh Muhammad bin Abdul al-Wahab, seorang Baduwi Najd. Setelah mendapatkan dukungan politik dari Ibnu Sa’ud, seorang politikus handal, Muhammad bin Abdul al-Wahab bersekongkol dengannya membentuk arus oposisi menentang kekuasaan Dinasti Ottoman. Targetnya adalah mewujudkan mimpi terbentuknya kekuasaan independen, yang mengusung ideologi Islam yang bercita-rasa literalis, berorientasi ke belakang (semakin ke belakang mendekati zaman Nabi dianggap semakin murni?), dan mengkebiri cara berfikir religius yang substansial dan multi-dimensional: mencemooh filsafat, mantik dan tasawuf.
Wahabi telah menitik tekankan pada aspek teologi (tauhid) sebagai arena atau wilayah “pemurnian”. Ada pembengkakan wilayah teologi yang diupayakannya. Wahabi berasumsi bahwa ani-tesa tauhid adalah musyrik. Dan musyrik dibagi menjadi dua, yaitu syirik kecil dan besar. Syirik besar bersifat jahri (jelas) adalah sikap yang berlebihan terhadap selain Tuhan, dimana sikap itu sejatinya hanya layak dipersembahkan untuk Tuhan. Jika sikap itu dilakukan, kata Wahabi, maka terejawantahkannya pemberhalaan (tawtsien). Ziarah dan tawashul terhadap kuburan Nabi, para sahabat dan orang-orang salih, sikap memuliakan batu atau sampah, dan mencintai orang-orang salih dianggap oleh Wahabi adalah sikap yang “berlebihan”, karena itu sebagai wujud pemberhalaan. Pandangan ini akan berimplikasi mensejajarkan Nabi dan orang salih dengan batu atau sampah, yang sama-sama tidak boleh disikapi secara berlebihan, lantaran dianggap sama-sama bukan Tuhan.
Kita tahu bahwa sikap “berlebihan” adalah masalah yang sangat relatif dan kondisional. Terbukti, betapa hidup keseharian adalah cermin bagi kita untuk mengaca diri, betapa kita telah membeda-bedakan cara penyikapan terhadap sekian banyak jenis manusia. Para orang bijak jaman kuno sudah lama mengingatkan kita akan perlunya sikap adil: meletakkan sesuatu (atau manusia) pada tempatnya. Kata Aristoteles dalam Ethica Nicomachea-nya: “Sikap egaliter (musawa) tidak selamanya cerminan dari sikap adil. Adil adalah sikap proporsional, bukan egalitarianisme total”. Kebutuhan seorang mahasiswa berbeda dengan seorang siswa SD, SMP dan seterusnya. Menghadap ke presiden akan berbeda dengan menghadapi wong cilik. Perbedaan adalah wajar untuk mewujudkan rasa adil. Tapi bukan berarti berbeda. Wahabi, yang menyamakan Nabi dan orang salih dengan batu atau sampah, yang dianggap sama-sama makhluknya, kiranya tak tepat mengartikan makna adil.
Islam idealis dengan patokan teologi rigid yang diandaikan Wahabi menjadikannya sebagai sekelompok Serigala berbulu Domba: menawarkan ke-beradaban dengan cara-cara yang “biadab”. Menyergap kelompok yang lain dan yang berbeda. Nyatanya, setelah gerakan oposan Wahabi mendapatkan bekingan dari Inggris, mereka berhasil memisahkan diri dari Dinasti Ottoman, dan kisah pembantaian terhadap sesama Muslim dimulai. Mekah yang begitu suci dijadikan tempat jagal penyembelihan orang-orang Muslim, yang dianggap sebagai pelaku bid’ah. Wahabi merasa tidak puas menghabisi orang-orang Muslim di kandangnya sendiri (baca; Jazirah Arab), akhirnya Wahabi pun menyembelih orang-orang Muslim Syi’ah di Karbala.
Jargon pemurnian Islam yang diusung Wahabi menjadi ironi. Lantaran sejatinya mereka bukan memurnikan Islam, tapi mengeringkan Islam. Mendesain Islam sebentuk jalan setapak dan sempit. Sejenis cara berfikir identitas, yang memberikan ukuran-ukuran pasti dan sekematisasi kaku. Siapa pun harus dibentuk, tidak bisa membentuk. Jika sekema itu berbentuk kotak, maka dia harus menjadi kotak. Islam ditonjolkan dalam militansi kesalihan-formalis: bercelana di atas mata kaki, berjenggot, becadar, dll. Hanya dengan itu pula identitas Wahabi dimanifestasikan. Dada kita akan semakin sesak jika kita melihat betapa Wahabi menselaraskan agama dan pemikiran keagamaan. Lantaran Wahabi tak memberikan sedikit pun hak akal dan intuisi untuk didayagunakan dalam bergumul dengan agama. Sementara kita tahu, bahwa pemikiran keagamaan adalah produk ijtihadi penalaran manusia hasil pergumulan dengan agama dan realita. Pemikiran keagamaan akhirnya akan selamanya majemuk.
Wacana teologi yang diusung Wahabi adalah sejenis wacana yang absen dari percaturan ilmiah, dengan mengembalikannya ke dalam wacana “religius murni” yang bertumpu pada makna literalisme teks-teks primer agama (Quran&hadits), yang bersifat univositas. Bahasa metafor (majaz) adalah barang haram. Berteologi dengan berfikir atau penghayatan-intuitif adalah tindakan kriminal! Syahdan, Wahabi dalam menyikapi ayat-ayat ketuhanan pun tetap berpegang pada makna literalisnya. Yadu-Allah, semisal, diartikan bahwa Tuhan mempunyai tangan, seperti pendapatnya para salaf al-salih, demikian Wahabi berkata. Sejatinya nama besar dan harum “salaf al-salih” di sini sedang dijual sebagai alat legitimasinya. Terbukti, para salaf al-salih dalam menyikapi ayat-ayat ketuhanan, semisal Yadu-Allah, dengan tanpa menentukan makna, dan menyerahkan maknanya kepada Allah. Wa-llahu A’lam. Sementara kita tahu bahwa Wahabi telah menentukan makna literalisnya, dan terperosok ke dalam tajsiem (mempersonifikasi Tuhan yang berjasad). Pengakuan Wahabi sebagai madzhab salaf menjadi musykil. Bahkan, wacana teologi ala Wahabi yang hendak mensakralkan Tuhan, tapi berujung pada desakralisasi Tuhan, bisa jadi akan membawa pada agnostisisme.
Prinsip Wahabi ini tak selaras dengan ujaran Nabi, bahwa: “al-Quran bagaikan intan permata, yang setiap sisinya memancarkan cahaya yang beragam”. Ini adalah petanda bahwa bahasa al-Quran adalah bahasa yang ambigu dan bahkan ekuivositas (kemajemukan makna). Ada lapisan makna yang terkandung dalam bahasa al-Quran. Karena itu, semisal para teolog, para filsuf dan sufi dalam merumuskan bangunan teologinya dengan epistemologi filosufis-religius, yang diistilahkan Immanuel Kant dan Heidegger dengan “onto-teologi”. Piranti “analogi”, semisal, telah digunakan. Penalaran dan eksperimentasi didayagunakan untuk menyibak kandungan makna al-Quran yang begitu majemuk, demi meraih penyucian dan pensakralan Tuhan yang jitu.
Muhammad Abduh sebagai saksi mata menilai Wahabi adalah gerakan pembaharuan yang paradok: hendak mengibaskan debu taklid yang mengotori, tapi di saat yang sama menciptakan taklid baru yang lebih menjijikan. Muhammad Abduh dan Wahabi sejatinya terikat dalam satu mimpi bersama, yaitu mengembalikan Islam pada masa Islam belum terkotak-kotak dalam beragam sekte. Biasa diistilahkan sebagai “neo-Salafisme”. Tapi keduanya memilih jalan yang berbeda: Abduh melalui jalan rasionalis, sehingga diklaim sebagai neo-Muktazilah; Wahabi melewati jalan literalis, sehingga diklaim sebagai neo-Khawarij. Pangkal paradoksalitas Wahabi tercium oleh Abduh dalam menjatuhkan pembaharuannya pada jalan literlisme, yang menghantarkan pada “taklid baru yang menjijikan”. Berimplikasi pada pendangkalan Islam yang tak bisa dielakkan: menghempas progresif, mendulang regresif.
Baru-baru ini saya mendapatkan buku murah di pasar buku lowak (azbaciah) yang bertajuk “al-Sa’udiyyun wa al-Irhabi: Ru’yah ‘Alamiyah” (Orang-orang Saudi dan Terorisme: Sebuah Pandangan Dunia): Riadh, 2005. Sejenis bunga rampai, memuat tulisan dari berbagai kalangan. Ada satu sub judul yang membicarakan relasi terorisme dan Wahabi. Cukup beragam tulisan itu: ada yang menohok bahwa Wahabi adalah salah satu sumber merebaknya terorisme, dan ada yang menyucikan Wahabi dari terorisme. Tapi, penyucian Wahabi dari terorisme menjadi sangsi jika kita melihat kenyataan selalu saja ada pihak yang bergabung dalam komplotan terorisme berkedok agama, yang telah menyerap doktrin Wahabi. Dan benarkah kalau mereka hanyalah sekedar oknum?

Saturday, November 8, 2008

Amrozi dkk Sudah Di Eksekusi


Innalillahi wainna ilaihi roji'un....
Amrozi dkk sudah di eksekusi pada jam 00.00 Minggu, 9 November 2008. Apakah kita "puas,sedih,miris,ngeri,bahagia,marah atau malah nggak peduli" terhadap aksi eksekusi mati terhadap pengebom di hotel yang ada di Bali?...Apa serta mengapa yang membuat anda bersikap demikian? pastinya kita akan memiliki jawaban yang sangat beragam akan hal ini.

Menurut hemat penulis aksi "hukum pancung"(baca tembak mati,red)terhadap mereka bertiga kurang atau bahkan bukan ide dan jalan keluar yang terbaik, jika yang di harap pemerintah adalah supaya mereka(yang sealiran amrozi dkk)jera,maka menurut saya itu bukan penyelesaian yang tepat karena orang seperti mereka sudah terdoktrin yang sangat susah untuk bisa keluar dari jerat tersebut,langkah yang tepat menurut penulis adalah dengan mensosialisasikan ajaran yang humanis baik di sekolah-sekolah negeri maupun swasta di berbagai jenjang,pesantren dan lembaga-lembaga di masyarakat.

Karena mereka kurang memahami agama mereka secara kaffah maka dalam hal ini peranan Pesantren sangat dominan,Oleh karena itu pemerintah harus bekerja sama dengan pesantren demi mewujudkan keamanan dan keharmonisan antara warga dan negara.

Dalam hati saya bertanya-tanya, apakah dengan telah di eksekusinya Amrozi dkk maka aksi terorisme akan hilang dari bumi Indonesia?...Wallahu a'lam