Syekh Ali- Gom'ah

Habib Mundzir Al-Musawa

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Syekh Abdul Halim Mahmud

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

Thursday, January 24, 2013

Inspirasi Muhammad al-Fatih + Link Download

Muhammad Al Fatih merupakan pemuda yang mampu mewujudkan salah satu bisyaroh nubuwah. Kisah perjuangannya mampu menjadi inspirasi bagi para pejuang tegaknya syariat Islam dan khilafah dalam mewujudkan janji Allah dan bisyaroh nubuwah. Ada beberapa ibroh yang bisa kita ambil dari kisah selama hidupnya.

Mental al Fatih sejak kecil
Sejak kecil pada diri al Fatih sudah ditanamkan jiwa pemimpin terbaik, penakluk Konstantinopel, anak yang kelak akan mewujudkan sebuah bisayroh nubuwah. Syaikh Aaq Syamsudin, secara istiqomah mengajarkan dan mengulang-ulang bisyaroh nubuwah, kisah jihad dan futuhat para shahabat dan pendahulu al Fatih yang ingin menaklukkan Konstantinopel, serta yang terpenting adalah ketaatan totalitas pada Sang Kholiq. Sejarah telah mencatat, bahwa semenjak baligh hingga akhir hidupnya al Fatih tidak pernah meninggalkan shalat rowatib dan sholat tahajud, selama hidupnya ia menjadikan syariat selalu didepan matanya dan berusaha jangan sampai melanggar syariat yang Islam mulia ini.

Friday, February 3, 2012

TEORI MA’RIFAT DZUNNUN AL-MISRI

Maqam Dzun Nun Al-Mishri
 Al-Misri adalah pelopor paharn ma ‘rifat, Penilaian ini sangatlah tepat karena berdasarkan riwayat Al-Qathfi dan Al-Mas’udi—yang kemudian dianalisis Nicholson—dan Abd Al-Qadir dalam falsafah Al-sufiah fi Al-Islam; Al-Misri berhasil mernperkenaikan corak baru tentang ma’rifat dalam bidang sufisme Islam. Pertama, ía membedakan antara ma‘rifat sufiah dengan ma‘rifat aqliyah. Ma’rifat yang pertama menggunakan pendekatan qalb yang biasa digunakan para sufi, sedangkan ma’rifat yang kedua menggunakan pendekatan akal yang biasa digunakan para teolog.

Sunday, November 20, 2011

Biografi Syeikh Ahmad Khatib Sambas

Syeikh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama yang mendirikan perkumpulan Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah. Perkumpulan thariqah ini merupakan penyatuan dan pengembangan terhadap metode dua thariqat sufi besar. yakni Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.

Saturday, November 12, 2011

Kyai Haji Hasyim Asy'ari : Pendiri NU

Jombang l933. Terjadi dialog yang mengesankan antara dua ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan KH Mohammad Cholil, gurunya. “Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Cholil, begitu kiai dari Madura ini populer dipanggil. Kiai Hasyim menjawab, “Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya.” Tanpa merasa tersanjung, Mbah Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. “Keputusan dan kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” katanya. Karena sudah hafal dengan watak gurunya, Kiai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai santri.

Saturday, November 5, 2011

Lahirnya Firqah Salafi (Hanbaliyyah)

Aliran Salaf (Hanbaliyah)
                    Kalau yang dimaksud aliran salaf dalam masalah akidah dan theologi adalah mengikuti manhaj salafus saleh (faham Imam Malik, imam Ahmad bin Hanbal), maka sebenarnya aliran Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Ays’ariyah dan Maturidiyah) juga mengikuti manhaj salaf tersebut. Maka bisa dikatakan dalam theologi : aliran Salafiyah-Asy’ariyah dan Salafiyah-Maturidiyah.

Sunday, October 16, 2011

Misteri Pengarang syi'eir Tanpo Waton

Di awal tahun 2011 pertama kali aku mendengar syiir tanpo waton di karang nongko di acara pengajiannya kiai husain, rutinan malam pitulasan. syiir tersebut di kumandangkan sebelum dan sesudah pengajian, syiirnya begitu menyentuh kalbu, dan mulai bait awal sampai akhir penuh makna, seluruh syiir tersebut mengandung ajaran mulai dasar sampai ke ajaran yg lebih tinggi, andai ada orang yg baru masuk islam dan hanya syiir an ini jd pegangan insya Allah dia selamat dunia akhirat.

Tuesday, May 17, 2011

Ajaran Dasar Thariqah Naqsyabandiyah


Amin Al Kurdi menjelaskan ada 11 (sebelas) dasar ajaran Tarikat Naqsyabandiyah, yaitu :
1). “Huwasy Dardam” , yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Allah SWT atau tetap hadirnya Allah SWT pada waktu masuk dan keluarnya nafas. Setiap murid atau salik menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Allah di dalam hati sanubarinya. Ingat kepada Allah setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Allah SWT, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Allah, berarti menghambat jalan menuju kepada- Nya.

Thursday, May 5, 2011

Pernikahan

Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri

Pernikahan merupakan salah satu sunnah Rasul SAW dan merupakan anjuran agama. Pernikahan yang disebut dalam al-Quran sebagai miitsaaqun ghaliizh, perjanjian agung, bukanlah sekedar upacara dalam rangka mengikuti tradisi, bukan semata-mata sarana mendapatkan keturunan, dan apalagi hanya sebagai penyaluran libido seksualitas atau pelampiasan nafsu syahwat belaka. Pernikahan adalah amanah dan tanggungjawab. Bagi pasangan yang masing-masing mempunyai niat tulus untuk membangun mahligai kehidupan bersama dan menyadari bahwa pernikahan ialah tanggungjawab dan amanah, maka pernikahan mereka bisa menjadi sorga. Apalagi, bila keduanya saling menyintai.

Tuesday, May 3, 2011

Mitos-mitos Seputar Abd al-Qadir al-Jilani: Kritik Irasionalitas dalam Tradisi NU

Oleh Irwan Masduqi

Kaum Nahdhiyyin sangat mengkultuskan Abd al-Qadir al-Jilani. Mereka juga yakin akan kekramatan al-Jilani. Tulisan ini akan mengkaji kekramatan-kekramatan itu dalam rangka rasionalisasi tradisi NU. Kesarjanaan Islam ortodoks pada era skolastik sejujurnya telah meninggalkan warisan tradisi intelektual yang berharga berupa puluhan karya tulis yang mengupas biografi ‘Abd al-Qadir al-Jilani. Untuk sekadar menyebut, misalnya, Buhjah al-Asrar wa Ma’dan al-Anwar karya Syathnufi, Qalaid al-Jawahir fi Manaqib al-Syaikh ‘Abd al-Qadir karya al-Tadifi, Syamsy al-Mafakhir karya Muhammad bin Muhammad al-Bahsyi al-Halbi, Khulashah al-Mafakhir fi Ikhtishar Manaqib al-Syaikh ‘Abd al-Qadir karya Abu As’ad al-Yafi’i, ‘Aqd Jawahir al-Ma’ani fi Manaqib al-Syaikh al-Jilani karya Syaikh Ahmad bin Abd al-Qadir, Tuhfah al-Abrar wa Lawami’ al-Anwar fi Manaqib al-Sayid Abd al-Qadir wa Dhuriyatihi al-Akabirkarya ‘Ala al-Din al-Jilani, Nazhah al-Khathir al-Fatir fi Tarjamah Sayidi ‘Abd al-Qadir karya Mulla Ali Bih Sulthan, Bustan al-Ashahir wa al-Akabir fi Tarjamah Sayid ‘Abd al-Qadir karya Abd al-Hayi al-Qadiri,Riyadh al-Basatin fi Akhbar al-Syaikh ‘Abd al-Qadir karya Muhammad Amin bin Ahmad al-Kaylani, al-Janyu al-Dani fi Nubdzah min Manaqib al-Quthb ‘Abd al-Qadir al-Jilani karya Ja’far bin Hasan al-Barzanji, Anwar al-Nadhir fi Ma’rifati Akhbari al-Syaikh ‘Abd al-Qadir karya Abu Bakar Abdullah bin Nashr Hamzah al-Bakri al-Shidiqi, al-Nur al-Burhani fi Tarjamah al-Lujayn al-Dani fi Dzikr Nubdzah min Manaqib al-Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani karya Abi Lathif al-Hakim Mushlih bin ‘Abd al-Rahman al-Muraqi, dan lain-lain.

Wednesday, April 27, 2011

Manaqib oh manaqib...

Suatu sore yang cerah Kyai Dulhalim sedang membakar sampah di depan rumahnya, beliau hanya mengenakan kaos oblong putih dengan sarung Atlas kesayangannya sambil sekali-kali mengorek-ngorek sampah dengan sebatang ranting supaya terbakar semua, tiba-tiba ada yang datang dan mengucapkan salam.

“Assalamu’alaikum wa kaji[1]”

“Wa’alaikum salam warahmatullah… eh mang kosim, mangga mlebet[2]” kata Kyai Dulhalim sambil buru-buru melepas tangannya karena mang kosim berusaha untuk mencium tangan beliau dengan senyumnya yang khas.

“mboten usah kyai[3], saya hanya di beri amanat sama haji Syamsuri untuk mengundang kyai untuk bisa hadir ke rumahnya ba’da isya[4] dalam acara manaqiban” kata mang kosim dengan badan setengah menunduk tanda ta’dziman[5] kepada kyai Dulhalim.

“Mmm…katakan kepada haji syamsuri Insya Allah saya akan hadir kalau tidak ada halangan” jawab Kyai Dulhalim sambil tetap tersenyum

“oh ya, bagaimana kabar anakmu yang kemarin sakit, sudah sembuh belum?” tanya Kyai Dulhalim penuh perhatian

“Alhamdulillah kyai, sekarangan sudah baikan walaupun masih kelihatan pucat tapi sudah ada perkembangan”jawab mang kosim senang

“saya atas nama keluarga sangat mengucapkan banyak terimakasih karena bantuan kyai dalam pengobatan anak saya, saya tidak tahu bagaimana jadinya jika nggak ada kyai mungkin anak saya…”

“sudah,sudah…jangan diteruskan, bersyukurlah kepada Allah swt, mari masuk dulu!” potong kyai Dulhalim merangkul mang kosim ke rumahnya.

“Puten kyai[6], saya masih harus menyampaikan undangan haji syamsuri karena banyak yang belum tersampaikan padahal sekarang sudah sore jadi kapan-kapan saja, Insya Allah saya akan mampir lagi”kata mang kosim menolak ajakan kyai dulhalim untuk mampir.

“oh gitu…ya udah nggak apa-apa, hati-hati di jalan”

“matur kesuhun kyai, assalamu’alaikum…”

“wa’alaikum salam warahmatullah…” jawab kyai Dulhalim sambil melihat punggung mang kosim yang sesekali menoleh ke arah beliau sambil tersenyum.

****

Kyai Haji Abdul Halim yang masyhur di panggil Kyai Dulhalim adalah sosok ulama di kampung Sarimaju yang paling di segani dan di cintai bukan hanya karena beliau adalah Alim ilmu agama tetapi juga karena Akhlak beliau yang sangat santun dan sanagat memperhatikan masyarakat terutama dari golongan yang kurang mampu.

Setelah acara manaqiban selesai maka Kyai Dulhalim pun di minta tuan rumah untuk memberikan tausyiah sambil menunggu makanan di bagikan.

Setelah mengucapkan salam dan bersholawat kepada baginda Rosulullah saw, Kyai Dulhalim berkata.

“sebenarnya tradisi membaca manaqib itu tidak ada dalam syari’at islam maka bisa di katakan ini adalah bid’ah”

Tiba-tiba majlis menjadi agak sedikit riuh dan saling bertanya, mengerti akan hal ini kyai dulhalim melanjutkan

“yang kita baca barusan adalah manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailani, beliau adalah salah seorang ulama besar yang di maqomkan di baghdad dan Insya Allah termasuk hamba Allah swt yang mencintai dan di cintai-Nya”

Para hadirin mulai tenang tapi masih diliputi berbagai pertanyaan di benak mereka karena belum pernah ada kyai di kampung mereka yang menyatakan kalau membaca manaqib adalah bid’ah.

“Manaqib adalah semacam biografi yang menceritakan tentang jalan hidup seorang guru, Tetapi ia bukan sekadar biografi yang hanya mencatat tentang tempat lahir, tanggal lahir dan hal-hal yang berelasi dengan guru secara historis, tetapi merupakan catatan kehidupan spiritual seorang guru sufi (mursyid), yang dapat mempengaruhi para salik(murid) dalam menghidupkan orientasi spiritual didalam diri mereka dan juga meningkatkan aspirasi mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah swt” terang Kyai Dulhalim dengan tenang dan pandangan mata yang teduh tetapi jelas terlihat wibawanya.

“saya sering menghadiri acara manaqiban di baca dengan bacaan cepat dan kadang dengan pembacaan yang merdu dan yang lainnya mendengarkan tapi kebanyakan dengan mata berat terkantuk-kantuk karena kecapean mencangkul di sawah” sebagian hadirin tertawa.

“saya perhatikan manaqib mulai di syakralkan oleh masyarakat, karena seharusnya kita dapat mencontoh perilaku tokoh yang dibaca, tetapi ironisnya banyak dari kita yang tidak paham dengan isi manaqib”

“kalau kita membaca al-quran walaupum tidak paham tetap mendapat pahala tetapi kalau membaca manaqib kalau kita tidak paham akan isinya apa yang kita dapat?...”tiba-tiba hadirin kembali riuh dan agak lebih rame dari yang pertama.

“punten kyai, mohon kiranya kyai menjelaskan lebih detail lagi supaya jangan sampai terjadi perselisihan pada orang-orang awwan seperti kami ini…”tanya mang surip menyela Kyai Dulhalim

“nggih kyai, kan manaqib niki saking Waliyullah Syekh Abdul Qodir al-Jailani ing kang katah karomahe”[7]tanya ustadz arifin

“apakah Kyai sudah tidak percaya kepada karomahnya Syekh Abdl Qodir Jailani?” sahut Mang Karna menimpali

Kyai dulhalim terdiam sesaat, kemudian kembali tersenyum sambil memandangi hadirin satu persatu, sejurus kemudian beliau melanjutkan.

“memang betul syekh abdul qodir itu waliyullah”

“memang betul banyak karomahnya Syekh Abdul Qodir itu”

“akan tetapi…”

“sekarang itu membaca manaqib sudah dalam taraf mengkhawatirkan, yaitu banyak yang membaca manaqib tetapi tidak paham isinya, kedua banyak yang memahami kalau membaca manaqib itu membawa berkah walaupun tidak paham isinya, ketiga merasa kalau membaca manaqib itu adalah ibadah seperti halnya membaca al-quran dan sholawat nabi saw ini adalah keliru dan perlu di luruskan” orang-orang masih terdiam walaupun dalam benak mereka berkecamuk berbagai pertanyaan.

“inti dari membaca manaqib adalah supaya kita mampu meneladani tokohnya bukan pada bacaan tetapi pemahaman yang benar dan mengambil ibroh dari kisah yang terdapat dalam manaqib”kyai dulhalim terdiam kemudian menunduk, para hadirin pun jadi hening hanya suara cicak yang berkejaran di dinding dan suara jangkrik di kebun sebelah menambah rasa hening.


Note :

[1] Wak Kaji : Panggilan untuk orang yang sudah menunaikan ibadah haji

[2] Mangga mlebet : Silahkan masuk ( bahasa cirebon halus )

[3] Mboten usah : Tidak usah

[4] Ba’da isya : setelah sholat isya

[5] Ta’diman : Penghormatan

[6] Punten kyai : maaf kyai

[7] Betul kyai, manaqib inikan dari syekh abdul qodir jailani yang masyhur denagan karomahnya yang banyak

Saturday, April 23, 2011

Suluk Wujil .. Sunan Bonang

1.Inilah ceritera si Wujil Berkata pada guru yang diabdinya Ratu Wahdat Ratu Wahdat nama gurunya Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung Yang tinggal di desa Bonang Ia minta maaf Ingin tahu hakikat Dan seluk beluk ajaran agama Sampai rahsia terdalam

2 Sepuluh tahun lamanya Sudah Wujil Berguru kepada Sang Wali Namun belum mendapat ajaran utama Ia berasal dari Majapahit Bekerja sebagai abdi raja Sastra Arab telah ia pelajari Ia menyembah di depan gurunya Kemudian berkata Seraya menghormat Minta maaf

Saturday, April 16, 2011

Tasawuf Moral Dan Tasawuf Falsafi

Tasawuf merupakan praktek spiritual dalam Islam (ruhul islam), tasawuf memandang ruh sebagai puncak dari segala realitas sementara jasad tidak lebih sebagai “kendaraan” saja. Maka, jalan spiritualitas lebih banyak menekankan pada aspek ruhani, bersifat personal dan berangkat dari pengalaman yang juga bersifat personal. Berbeda dengan “agama” yang bersifat umum (dalam Islam kita kenal dengan istilah syari’ah/syari’at), jalan tasawuf kemudian kita kenal dengan istilah tarekat/thariqah (dekat dengan istilah tirakat). Dalam jalan ini setiap pendaki (salik/murid) akan melewati level dan kondisi (maqomat dan ahwal) di bawah bimbingan guru spiritual (dalam sufi dikenal dengan istilah mursyid).

Thursday, April 14, 2011

Rahasia Dzikir

Ibnu Athaillah As Sakandary

Dzikir itu bermacam-macam. Sedangkan Yang Didzikir hanyalah Satu, dan tidak terbatas. Ahli dzikir adalah kekasih-kekasih Allah. Maka dari segi kedisiplinan terbagi menjadi tiga:
Dzikir Jaly
Dzikir Khafy
Dzikir HaqiqiDzikir Jaly (bersuara), dilakukan oleh para pemula, yaitu Dzikir Lisan yang mengapresiasikan syukur, puhjian, pebngagungan nikmat serta menjaga janji dan kebajikannya, dengan lipatan sepuluh kali hingga tujuh puluh.Dzikir Batin Khafy (tersembunyi) bagi kaum wali, yaitu dzikir dengan rahasia qalbu tanpa sedikit pun berhenti. Disamping terus menerus baqa' dalam musyahadah melalui musyahadah kehadiran jiwa dan kebajikannya, dengan lipatan tujuh puluh hingga tujuh ratus kali.
Dzikir Haqiqi yang kamil (sempurna) bagi Ahlun-Nihayah (mereka yang sudah sampai di hadapan Allah swt,) yaitu Dzikirnya Ruh melalui Penyaksian Allah swt, terhadap si hamba. Ia terbebaskan dari penyaksian atas dzikirnya melalui baqa'nya Allah swt, dengan symbol, hikmah dan kebajikannya mulai dari tujuh ratus kali lipat sampai tiada hingga. Karena dalam musyahadah itu terjadi fana', tiada kelezatan di sana.

Wednesday, April 13, 2011

Burdah

Kasidah Burdah adalah mutiara syair kecintaan kepada Rasulullah. Diciptakan oleh Imam Busyiri pada abad 7 Hijrah dan di baca dalam berbagai acara. Puisi-puisi ini diyakini dapat memberi kesembuhan jiwa dan raga

Al- Bushiri yang bernama lengkap Sarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah as Shanhaji al Bushiri, adalah seorang sufi besar, pengikut Thariqat Syadziliyah, dan menjadi salah satu murid Sulthonul Auliya Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily, ra. Ia lahir tahun 1212 M di Maroko. Ia berguru dengan beberapa ulama tasawuf seperti Abu Hayyan, Abu Fath bin Ya’mari dan al ‘Iz bin Jama’ah al Kanani al Hamawi, dan belajar Thariqat Sufi pada Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily. Sejak masa kanak, Bushiri dikenal sebagai orang yang wara’ (takut dosa). Pernah suatu ketika ia akan diangkat menjadi pegawai pemerintahan kerajaan Mesir, akan tetapi melihat perilaku pegawai kerajaan membuatnya menolak.

Mutiara Syekh Abul Hasan Syadzily

Beliau ra berkata: Ilmu-ilmu ini (Ilmu Tasawuf) adalah benteng-benteng dan penjelasan terhadap posisi-posisi jiwa, bersitan-bersitan, tipu daya, dan kehendaknya, serta memutus hati dari memperhatikan, bersantai, dan merasa tentram (dengan ego) diatas jalan tauhid dan syariat dengan kemurnian cinta dan keikhlasan agama dengan sunnah.   Mereka mempunyai beberapa tambahan dalam maqam-maqam keyakinan dari zuhud, sabar, harap, takut, tawakal, ridha, dan lain-Iainnya yang termasuk maqam-maqam yakin. Inilah jalan orang-orang yang menuju (kepada Allah) dalam metode interaksi.

Maqom Syekh Abu Hasan Di Samping Masjid. (Ketika Haul Syekh Abu Hasan as-Syadzily tahun 2010)

Qalbu

Qalbu adalah Singgasana Allah
Pusat kendali diri setiap manusia
Landasan penampakkan Al Haq
Ranah hamparan kasih rahmatNya

Ia adalah cerminan hakikatNya
Mikroskop nilai keluhuranNya
Wadah penampung kalamNya
Jaring penangkap isyarat-isyaratNya

Ia dianalogikan dengan cahaya
Diurai dengan huruf-huruf Qur’ani
Ia laksana, minyak dan lampu
Dalam Misykat serta kaca menyala

Thursday, December 9, 2010

Tasawuf Penting Tapi Dasar Syari'at Adalah Pondasi


Ini ada selingan dikit, hasil perbincangan kemarin antara saya dan 2 orang teman yang sudah lama gak ketemu, setelah basa-basi, temen saya ini akhirnya ngomong masalah agama, nah banyak unsur yang menarik disini (menurut saya)

saya singkat temen saya itu dengan Alfan dan Badrun (bukan nama asli)

Saya : Ente berdua dimana sekarang (biasa pakai ente kalau udah ngomong ma temen sendiri)

Alfan & Badrun : Kami sekarang masih dalam proses belajar

Alfan : Jo (panggilan saya, anggap saja nama saya Bejo hehe…), ente tau gak bahwa kita ini diciptain dari Nur Muhammad,......akhirnya dia ngejelasin tentang ini sampai membahas prihal fuad, lathoif (jamak dari lathifah) dan ilmu tasawuf lainnya.

Saya : wah, ente hebat, saya baru tahu dikit aja.

Akhirnya kami jalan dan Badrun bilang kerjaannya sekarang mengajar ngaji Al-Qur'an anak-anak SD kelas 1 dan 2.

Pas saat itu si Badrun baca Qur’an, karena saya pikir ada yang agak janggal dengan cara ngajinya akhirnya saya nanya : eeee..Badrun....kalo gak salah itu hukumnya mad wajib muttasil ya....kalau yang ane denger tadi ente bacanya jadi ke mad thabi’ie

Badrun :…??????

Saya : kok bengong, makhroj huruf ‘ain itu dimana? tenggorokan bawah, tengah pa atas.

Badrun : ............tengah kayanya

Saya : kok kayanya? bukannya ente ngajarin orang?, kok bisa gak yakin ama makhrarijul huruf

em...... eh...Bad....kalo huruf hijaiyah itu jumlahnya berapa?

Badrun :............28

Saya : bener segitu ? gak 29 ?

Badrun :............(lama banget mikirnya)

karena si Badrun mikirnya lama akhirnya saya balik nanya ke si Alfan

saya : eh...al (al adalah panggilan alfan)...tadi ente kan bicara tentang Nur Muhammad, nah saya mau nanya dikit, kalo ente buang air kecil atau besar kan harus dibasuh tuh.....nah pake apa ngebasuhnya bro?

Alfan : ya pake air lah...aneh tu pertanyaan

Saya : ha..ha....iya-iya maaf deh, saya tahu pake air, kalo gak ada air bisa pake tisu atau batu.........tapi saya mau nanya air apa? Air mutlak, musta'mal, atau yang lain?

Alfan :.............

Saya : yang saya tahu kalau membersihkan sesuatu dari najis harus pake air mutlak atau air suci dan bisa mensucikan, atau jangan jangan air yang biasa ente pakai buat wudhu selama ini ente pakai air musta'mal wah cilaka 12 bro! ... ente berati belum bersih dan syah buat sholat

Alfan :............

Saya : nah karena sudah bicara tentang air, saya sekalian nanya tentang wudhu basuh telinga itu sunnah atau rukun?

Alfan:.............

Saya : kok bengong? sunnah apa rukun....kalo gitu yang makruh ama yang haram dalam wudhu apa?

Alfan :............loh emang ada?

Saya : memang ada kan, yang saya tahu kalo ente memperlambat wudhu sementara adzan udah berkumandang nah itu udah makruh, kalo ente mengatakan yang rukun itu sunnah, yang sunnah itu rukun maka jadi haram. Nah, jadi kalo ente bilang basuh telinga tu rukun sementara itu hanya sunnah maka wudhu ente udah haram.

kalo haram shalat kita diterima gak?

Maaf ya, saya ngomong kaya gini bukan mau sombong atau apa, tapi saya ngomong kaya gini karena ente tadi udah ngomong Nur Muhammad, sirr, maqomat aulia, karomah dan lain lain sedangkan si Badrun udah ngajar ngaji ke anak-anak SD, soalnya kalo ente belajar hanya untuk diri sendiri, ente cukup belajar sedikit, tapi kalo udah mau ngajarin orang lain ente harus banyak belajar ini bukan kata-kata saya, tapi kata Imam Syafi'ie r.a

Ente juga harus hari-hati, soalnya kalo ente ngasih pelajaran sementara pelajaran itu gak ente amalin, maka ente bakal nanggung dosa yang sangat banyak karena ente nanggung dosa ente dan dosa orang yang ente ajarin yang gak ngamalin ilmu tersebut.

Ente juga ngomong Nur Muhammad dll itu udah masuk ranah ilmu hakikat atau tassawuf dan ahwal ma'rifat , karena itu ane nanya ilmu syariat atau fiqih supaya ente gak salah jalan, dalam artian ibadah ente benar.

Kalau ente aja gak tau tentang thaharah, jenis-jenis air, ceboknya salah, wudhunya salah, shalatnya salah, nah bagaimana amal ibadah ente bakal diterima. yang lebih parah lagi kalo ente gak hapal rukun islam sama rukun iman

Karena sebenarnya yang kita takutkan itu bukan amal yang sedikit, tapi kalau amalnya itu gak diterima oleh Allah swt, ini bukan saya yang bilang tapi sayyidina Ali bin abi thalib karamallahu wajhah

Coba kalau ente tengok ulama-ulama besar baik yang sekarang maupun yang dulu kaya wali songo, syekh khoalil bangkalan, habib mundzir, dll. Mereka semua kuat banget ilmu fiqihnya, baru naik belajar tassawuf dan pendalaman hakikat tentang rukun iman dan islam serta arti diri kita.

Saran saya sih, mendingan cari guru lah, ngaji kitab fiqih dulu, ngajinya jangan sendiri tapi ada gurunya.

Kalau ente ngerasa malu balik belajar dari awal artinya ente udah sombong, dan itu bukanlah perilaku ulama-ulama besar warisatul anbiya

Contohnya salah satu guru Syekh Khalil bangkalan itu adalah seorang pemuda yang usianya sama dengan anak Syekh Khalil (atau masyhur di panggil Mbah Khalil Bangakalan)

Kalau ulama sebesar Syekh Khalil saja mau belajar ama yang lebih muda, kenapa kita enggak?

Saya cuma saran ya......gak bermaksud mengajari terlebih-lebih menghakimi tapi sekedar mengingatkan supaya kita sama-sama gak salah jalan, karena ente udah ane anggap keluarga, jadi hak saya untuk ngingetin saudara, kalau ente rada tersinggung saya mohon maaf.

akhirnya kami pisah dan temen saya akhirnya mau balik lagi belajar dari dasar.



Saturday, March 27, 2010

Kata - kata Yang Menggugah...

1. “Apabila kata-kata keluar daripada hati, maka ia akan masuk ke dalam hati, apabila kata-kata keluar daripada lidah, maka ia akan hilang begitu sahaja” – Nabi Muhammad S.A.W

2. “Bukanlah yang dikatakan kuat itu dengan hebatnya bergusti, sesungguhnya orang yang kuat adalah mereka yang mampu menahan dirinya daripada sifat marah” – Nabi Muhammad S.A.W

3. “Bukanlah yang dikatakan kaya itu adalah kaya harta benda, tetapi hakikat sebenar kaya adalah mereka yang kaya jiwa (budi pekerti)” – Nabi Muhammad S.A.W

4. “Permulaan itu itu adalah 1.dengar 2.faham 3.hafal 4. amal 5.sebar (dakwah)” – Ibnu Mas’ud (Kitab Hilyatu Aulia’)


5. “Tiada Islam tanpa jemaah, tiada jemaah tanpa kepimpinan, tiada kepimpinan tanpa ketaatan” – Saidina Umar R.A

6. “Makin bertambah ilmuku makin terasa kebodohanku” – Imam Syafie


7. “Katakan siapa kawan saudara, kemudian saya akan katakan siapa sebenarnya saudara” – Imam al-Ghazali

8. “Rumahku Syurgaku” – Ibnu Taimiah

9. “Barangsiapa yang tidak berubat menggunakan al-Quran, maka Allah tidak akan menyembuhkan penyakitnya” –Ibnu Qayyim al-Jauzi

10. “Orang yang tidak melalui dunia (ambil dunia), maka dia tidak akan dapat masuk syurga” – Ibnu Taimiah

11. “Ulamak dunia adalah ulamak yang menjadikan agamanya tempat cari makan (menjual agama dengan harga yang murah)” – Imam al-Ghazali

12. “Ya Allah seandainya aku beribadat kepada-Mu semata-mata kerana takutkan azab api neraka-Mu, maka Kau masukkanlah aku ke dalam neraka” – Rabiatul Adawiah

13. “Sesungguhnya hidayah itu tidak akan sampai melainkan dengan ilmu” – Ibnu Qayyim al-Jauzi

14. “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan kenal siapa Tuhannya” – Ulamak Sufi

15. “Ilmu yang bermanfaat itu adalah sesuatu yang mendatangkan takut kepada Allah S.W.T” – Imam al-Ghazali

16. “Di saat engkau dilahirkan orang lain ketawa engkau yang menangis, maka berjuanglah di saat engkau meninggal dunia, biarlah orang lain yang menangis engkau yang gembira” – Hamka

17. “Memisahkan agama dan politik adalah cara yang paling mudah untuk menjadi kafir” – Syeikh Mustafa Sobri

18. “Sesiapa yang meniru golongan yang soleh, maka ia akan dimuliakan sebagaimana mereka dimuliakan, sesiapa yang meniru golongan yang fasik ia tidak akan dimuliakan” – Al-‘Aqomi

19. “Orang yang buta huruf pada zaman ini adalah mereka yang tidak bersedia untuk belajar perkara baru” – Troffler

20. “Jangan tanya apa yang negara boleh sumbang kepada anda, tanyalah apa yang anda boleh sumbang kepada negara” – Washington Kennedy

21. “Keberanian mengandungi keajaiban, kuasa dan kebijaksanaan di dalamnya” – Geothe (pujangga Itali)

22. “Pengikut bukannya menyokong pemimpin tapi mereka hanya menyokong perjuangannya” – Mahatma Gandhi

23. “Pemimpin yang hebat dilihat sebagai hamba kepada organisasi” – Greenleaf

24. “Ramai orang berusaha mencari siapa yang bersalah daripada menyelesaikan masalah itu” – Robert Schuller

25. “Apabila saudara mula ke hadapan masyarakat, kekuatan dan keterampilan saudara banyak bergantung kepada kebolehan saudara dalam menyampaikan ucapan dan idea” – Peter Druker

26. “Kemahiran berucap adalah faktor paling utama seseorang pemimpin dilihat berkarisma dan hebat” – Conger dan Konungo

27. “Berikan saya 10 orang pemuda, nescaya saya akan gegarkan dunia” – Sukarno

28. “Harga sesebuah kemasyhuran adalah tanggungjawab” – Winston Churchill

29. “Apa yang seseorang lakukan dalam kehidupan sosialnya adalah cerminan daripada kehidupan peribadinya” – Steven R. Covey

30. “Tatacara saudara menjadi tidak bermakna sekiranya ia tidak dilakukan dengan keyakinan” – Elisabeth Egan

31. “Tiada terpelihara kehormatan yang tinggi daripada penderitaan, sehingga mengalir darah dari tiap-tiap bahagian tubuh” – Hamka

32. “Saya fikir kita harus kembali kepada agama” – tokoh Athies

33. “Barangsiapa yang masih lagi tidak meninggalkan maksiat walaupun umurnya mencecah 40 tahun maka bersiap-siaplah untuk dihumbankan ke dalam neraka” – Imam al-Ghazali

Pujangga Arab

1. “Masa itu ibarat pedang, sekiranya kamu tidak potong masa, maka dia akan potong kamu”

2. “Air mata adalah senjata bagi wanita”

3. “Ilmu tanpa amal ibarat pokok yang tiada buahnya”

4. “Alangkah kecilnya duniaku ini, kalau tidak kerana besarnya cita-citaku”

5. "Istiqamah itu lebih baik daripada 1000 karamah (kemuliaan)"

Sunday, October 11, 2009

Hizib (bab 1)

Secara harfiah Hizib dapat diartikan sebagai golongan, atau kelompok bahkan ada yang mengartikan sebgai tentara, Kata Hizib muncul di Al-Quran sebanyak beberapa kali yaitu :
1. Surat Al Maaidah ayat 56 :
Dan barang siapa yang menjadikan Allah ta'ala, RosulNya dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpin, maka sesungguhnya Golongan (Hizbu) Alloh-lah sebagai pemenang.
2. Surat Al Kahfi ayat 12 :
Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah diantara kedua golongan (Al hizbaini) itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal didalam gua itu
3. Surat Ar Ruum ayat 32 :
dari orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan (HIzbin) mereka
4. Surat Al Fathiir ayat 6 :
Sungguh setan itu membawa permusuhan bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, sesungguhnya mereka mengajak Golongannya (Hizbuhu) agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.
5. Surat Al Mujaadilah ayat 19 :
Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Alloh ta'ala; mereka itulah golongan (Hizbu) setan. Ketahuilah bahwa golongan (Hizba) setan lah yang merugi.
6. Surat Mujadiilaah ayat 22 :
Engkau tidak akan mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah ta'ala dan kepada hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang didalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan/ ruh yang datang dari Dia. Lalu dimasukkannya mereka kedalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha. Merekalah golongan (Hizbu) Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan (Hizba) Allah-lah yang beruntung.
Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah), kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau “mendung yang tersisa”. Semisal hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung).
Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi thariqah atau yang berkembang di pesantren adalah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya hizib yang dibaca hari jum’at; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari jum’at.
Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada hizib Ghazaly, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahri, Hizib Syeikh Abdul Qadir Jailani, Ratib Al-Ahdad, yang masing-masing memiliki sejarah sendiri-sendiri.
Hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’anul karim dan untaian kalimat-kalimat zikir dan do’a yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
As Syaikh Abul Hasan Asy Syadzily terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah hizib Bahr dan hizib Nashor. Kedua hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin diseluruh dunia, terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti thoriqot asy syaikh.
Hizib Bahr adalah hizib yang di terima Syaikh Abu Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah SAW berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterima hizib bahri adalah sebagai berikut :
Pada waktu itu asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu diantaranya harus menyeberangi laut merah. Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama nasrani. Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy syaikh. Akan tetapi keadaan laut pada waku itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalannapun menjadi tertunda. Sampai akhirnya pada suatu hari, asy syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah SAW. Dalam perjumpaan itu, Rasulullah SAW secara langsung mengajarkan hizib Bahri secara imla’ (dikte) kepada syaikh.
Setelah hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah SAW itu beliau baca, kemudian beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy syaikh. Namun asy syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan jalankan perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang “, ucap asy syaikh kepada orang itu. Dan memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun akhirnya bisa berjalan. Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan masuk islam.
Berkata syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul Bahri ini sudah digelar di permukaan bumi. Bendera hizbul bahri berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan bahwa hizbul bahri mengandung Ismullohil ‘adhom dan beberapa rahasia yang sangat agung.
Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Bahrinya ini. Di antaranya, menurut Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahri, Red.) ini dibaca di Baghdad, niscaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar,Wallahu a’lam.
Bila Hizib Bahri dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun.
Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahri ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam. Bila Hizib Bahri ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari maksud jelek orang dan seterusnya.
Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahri dengan kontinu, akan mendapat perlindungan dari segala bala’. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya.
Banyak komentar-komentar, baik dari Asy Syaikh Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahri yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahri telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi.
Seperti yang telah disampaikan dalam manaqib Asy Syaikh Syadzili, bahwa menjelang akhir hayat beliau, asy syaikh telah berwasiat kepada murid-murid beliau agar anak-anak mereka, maksudnya para murid thariqah syadziliyah, supaya mengamalkan hizib Bahri. Namun untuk mengamalkan Hizib ini seyogyanya harus melalui talqin atau ijazah dari seorang guru yang memiliki wewenang untuk mengajarkannya. Seseorang yang tidak mempunyai wewenang tidak berhak mengajarkannya ataupun memberikan hizib ini kepada orang lain. Hal ini merupakan adabiyah atau etika dilingkungan dunia thariqah.
Inilah sekilas pandang tentang Hizib, dan insya Allah untuk berikutnya akan saya bahas satu-satu tentang hizib, mulai dari hukum, sejarah, sanad, fadilah, beserta teksnya dan insya Allah untuk teks Hizib akan saya usahakan untuk bisa di download, supaya bisa memudahkan bagi anda yang berminat mengamalkannya.

Thursday, June 18, 2009

Tiga Sudut Pandang Tasawuf


Taswuf sumbernya ada tiga; pertama tasawuf indal akhlaq wal adab, yang kedua tasawuf indal Fuqaha; tasawuf menurut fuqaha, tasawuf inda ahlil Ma’rifat. Ini yang perlu diketahui. Tasawuf inda akhlaq wal adab bisa kita terapkan sedini mungkin untuk anak-anak kita. Terutama makan; pake tangan kanan, di ajari sedini mungkin, masuk kamar mandi kaki kiri, keluar kaki kanan ini tasawuf akhlak wal adab. Karena sumbernya tasawuf adalah min akhlaq wal adab, dari pekerti dan tatakrama.



Yang kedua tasawuf indal fuqaha: bagimana fiqih ini tidak berhenti hanya secara fiqhiah belaka. Contoh orang kalau sudah menjalakan wudhu mau sholat, setelah dipake shalat wudhunya kemana? Selesai kan?! Nah orang tasawuf tidak mau. Tasawuf menuntut sejauhmana anda membawa wudhu ini terlepas daripada kefardhuan yang sudah anda laksanakan. Apakah anda wudhu didalam shalat hanya terikat oleh syarat-syarat atau hukum-hukum syari’at. Anda dituntut oleh ulama tasawuf agar wudhumu bisa mewudhui bathiniah Anda atau tidak. Dan seterusnya. Disinilah hebatnya ilmu tasawuf.



Tasawuf inda ahli ma’rifat, nah disni banyak orang terjebak. Dalam dunia tasawuf, dalam ilmu ma’rifat mereka yang perbendaharaannya belum mumpuni, belum mencukupi seringkali terjebak. Akhirnya dia memunculkan analis-analis, seolah-olah tasawuf berbau Budha tasawuf, berbau Hindu. Karena apa? Mereka tidak tahu. Ilmu ma’rifatnya saja mereka tidak mengerti, apa sebetulnya ma’rifat itu. Dari kekosongan itu, mereka belajar menganalis tasawuf; orang-orang yang sudah ahli Marifat, tinggi sekali, dengan bahasanya yang luar biasa. Wong dalam Tasawuf fuqaha saja mereka sudah tidak bias memahami.



Contoh Imam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali menjawab dunia falsafah, menjawab dunia tauhid aliarn ilmu kalam pada waktu berkembang macem-macem faham. Dijawab dengan tasawuf fuqaha, yaitu dengan munculnya ‘Ihya Ulumiddin’.



Mengapa dalam kitab Ihya ulumiddin banyak hadits-hdits maudu’ disamping dhaif. Karena apa? Pendapatnya ahli falasifah dijawab oleh Imam Al Ghazali dengan hadits yang maudhu saja, masih lebih baik haidits maudu’ daripada pendapat-pendapat kaum falasifah. Masih tepat, karena apa? Walaupun ini maudhu, tapi yang menggunakannya adalah orang-orang yang mengerti ma’rifat kepada Allah. Makanya disini digunakan oleh Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali.